Kamis, 09 Juni 2016

Profil Suku Rejang (Bengkulu)



Suku Rejang (Bengkulu)

1.      Asal-usul Suku Rejang

a.    Letak geografis

Kabupaten Rejang Lebong dengan terletak pada posisi 102 31’ Lintang Selatan. Batas-batas 22’07’’- 3Bujur Timur dan 2 administratif Kabupaten Rejang Lebong adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara    : Kabupaten Lebong

Sebelah Selatan : Kabupaten Kepahiang

Sebelah Timur    :Kabupaten Musi Rawas

Sebelah Barat    : Kabupaten Bengkulu Utara


Ibukota Kabupaten Rejang Lebong terletak di Kota Curup. Jarak Kota Curup dari beberapa kota disekitar antara lain:

Bengkulu            : 85 km

Lubuk Linggau   : 55 km

Palembang         : 484 km

Tanjung Karang : 774 km

Secara topografi, Kabupaten Rejang Lebong merupakan daerah yang berbukit-bukit, terletak pada dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian 100 – > 1000 m dpl. Secara umum kondisi fisik Kabupaten Rejang Lebong sebagai berikut: Kelerengan: datar sampai bergelombang, Jenis Tanah: Andosol, Regosol, Podsolik, Latasol dan Alluvial, Tekstur Tanah: sedang, lempung dan sedikit berpasir dengan pH tanah 4,5 –7,5 , Kedalaman efektif Tanah : sebagian besar terdiri atas kedalaman 60 cm hingga lebih dari 90 cm, sebagian terdapat erosi ringan dengan tingkat pengikisan 0 – 10 %. Curah hujan rata-rata 233,75 mm/bulan, dengan jumlah hari hujan rata rata 14,6 hari/bulan pada musim kemarau dan 23,2 hari/bulan pada musim penghujan. Sementara suhu normal rata-rata 17,73 0C – 30,940C dengan kelembaban nisbi rata-rata 85,5 %. Suhu udara maksimum pada tahun 2003 terjadi pada bulan Juni dan Oktober yaitu 32 derajad Celcius dan suhu udara minimum terjadi pada bulan Juli yaitu 16,2 derajad Celcius.[1]

Pada jaman neolitikum para ahli sejarah telah menemukan bukti tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia. Von Heine Gelderm telah mengadakan penelitian tentang kapak persegi. Berdasarkan penemuan dan persebaran kapak persegi itu, terletak di hulu-hulu sungai besar Asia Tenggara, dari daerah Yunan, Cina selatan kebudayaan itu tersebar menghilir lembah-lembah sungai tersebut akhirnya sampai berpusat di tonkin. Hingga kemudian menyebar ke semenanjung malaka, Sumatra, Jawa, Bali dan terus ke Timur.

Dengan gambaran seperti ini dengan begitu dapat dikatakan bahwa asal-usul penghuni yang pertama datang ke daerah bengkulu adalah bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia sampai ke Nusantara menemui tanah tinggal yangterpisah-pisah karena alamnya yang terdiri-dari pulau-pulau hutan gunung dan sukar ditembus, sehingga melahirkan suku-suku baru. Diantaranya suku Rejang, sehingga dapat dikatakan suku rejang merupakan keturunan ras bangsa Austronesia yang berasal dari Yunan Cina Selatan.

            Suku rejang semula hidup berkelompok-kelompok kecil mengembara di daerah lebong yang luas. Pada masa ini mereka masih berpindah pindah. Barulah pada zaman ajai mereka hidup dan mulai menetap disuatu daerah, terutama di lembah-lembah sekitar sungai ketahuan.

            Menurut riwayat, suku bangsa rejang yang sekarang berasal dari Empat Petulai, dan setiap petulai dipimpin oleh seorang Ajai. Perkataaan Ajai berasala dari kata Majai, artinya memimpin suatu kumpulan manusia. sedangkan sebutan Empat Petulai itu baru disebut saat pemerintahan inggris bercokol di Indonesia.

2.  Sistem Kekerabatan

Hubungan kekerabatan Suku Rejang adalah bilateral, Walaupun keturunan mereka cenderung patrilineal. Adat menetapkan sesudah kawin yang dalam bahasa rejang disebut duduk letok (menentukan tempat tinggal) ditentukan berdasarkan asen (mufakat) oleh kedua belah pihak. Asen ini ada beberapa macam. Bentuk kekerabatan lama adalah keluarga luas yang disebut tumbang. Antara satu tumbang dengan tumbang tertentu masih ada hubungan petulai (saudara) dan disebut sebagai kelompok satu ketumbai atau sukau. Beberapa ketumbai atau satu berdiam di sebuah sadei (dusun).

3.  Sistem Sosial

Masyarakat suku rejang mengenal sistem kesatuan sosial yang bersifat teritorial genealogis yang disebut mego atau marga atau bang mego. Kesatuan sosial ini berasal dari kelompok keturunan sutan sriduni, cikal bakal mereka. bang mego asal ada empat, yaitu tubai, bermani, jekalang, dan selupuak. Pada masa sekarang jumlah bang mego sudah bertambah, namun pengaruh yang asli masih kuat, mereka yang disebut tiang empat limo dengan rajo. Pada zaman dahulu merekalah yang menunjuk raja.


Pelapisan masayarakat rejang pada zaman dahulu diantaranya pertama, golongan bangsawan yang terdiri dari raja-raja dan kepala marga. Golongan kedua adalah kepala dusun yang disebut potai, dan yang ketiga disebut golongan tun dawyo atau orang biasa. Golongan yang dihormati adalah para pedito(pemimpin agama) dan labgea (dukun).

4.  Sistem Religi

Sebelum masuknya agama islam di Bengkulu, suku Rejang masih memegang kepercayaan Animesme dan Dinamisme yaitu percaya kepada benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistis serta arwah roh nenek moyang. Dalam bukunya Antonie Cabaton menyebutkan bahwa orang Rejang dalam jangka waktu tertentu memberi persembahan berupa beras dan buah-buahan pada gunung Kaba yang dimuliakan oleh suku Rejang.

Memasuki abad ke-16 islam mulai masuk ke Bengkulu dari Banten, terutama dari daerah Selatan, diperkirakan juga Islam masuk dari Aceh dan Minang Kabau sedangkan untuk Daerah Rejang kemungkinan Islam masuk dari Palembang di daerah ini Islam merupakan agama terbesar yaitu melebihi 99%. Selai agama Islam agama Nasrani dan Katolik datang di Bengkulu senagaja disebarkan oleh Zending Katolik.  pada tahun 1916 ada dua padri Katolik Roma, memimpin misi kurang lebih 600 jiwa.

Sampai pertengahan abad ke-19 masi terdapat sisa-sisa kepercayaan lama di daerah pedalaman, tetapi pada akhir abad ke-19 tidak terdapat lagi penganutnya secara sempurna. Masyarakat Rejang telah menganut Islam atau Nasrani, meskipun cara lama masi terbawa juga.

5.   Adat Istiadat dan Peraturan

Pada zaman dahulu pengaturan dalam kerajaan dilakukan oleh para pejabat negara dan puncak pimpinan terletak ditangan seorang raja. Dalam pelaksanaan operasionalnya rajapun dibantu oleh para pembantu seperti; penghulu, kepala kaum, datuk, patih, tuai kutai, depati, pemangku, penggawa, gide dan pemangku muda.

Dasar dari pengaturan ini adalah peraturan-peraturan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis seperti adat istiadat, yang telah ditetapkan berdasarkan pemufakatan para umara dan ulama serta orang-orang tua atau tokoh-tokoh yang terpandang dalam masyarakat. Dalam pemerintahan anjai-anjai kerajaan pat petula, segalah sesuatu mengenai ketertiban dalam pengaturan negara sebagian sudah diatur dalam adat istiadat bangsa Rejang. Menurut adat ini barng siapa yang melanggar adat akan dibunuh. Setelah kedatangan para biku dari Maja pahit dan menjadi raja bangsa pajang; maka suku Rejang di Daerah Bengkulu mendapatkan pelajaran bertanih dan peraturan baru untuk memperbaiki dan penyempurnaan peratiran yang lama. Salah satunya adalah Gawai Bunuh diganti Gawai Bngun, artinya barang siapa yang membuat kesalahan besar seperti membunuh tidak lagi dibunuh tetapi diganti gawai Bangun. Gawai Bngun artinya siapa yang membuat kesalahn besar seperti membunuh tidak lagi dibunuh tetapi diganti dengan membayar berupa emas dan perak kepada ahli famili si mati.[7]

Adat rejang yang masih berlaku hingga sekarang aialah:

a.    Membunuh-membangun artinnya: kalau membunuh orang hukumnnya si pembunuh harus membayar bangun kepada famili yang mati, yaitu berupa emas dan perak.

b.    Salah berhutang, artinya kesalahan terpikul oleh orang yang bersalah itu sendiri.

c.    Gawai Mati atau Gwai Bunuh, seseorang yang melakukan keslahan yang sangat besar atau yang dilarang keras oleh adat, dihukum mati atau dibunuh.

d.   Melukai menepung, artinya memberi emas atau uang kepada oarng yang dilukai.

e.    Selang berpulang, artinya tiap barang yang dipinjam harus dikembalikan.

f.     Suarang berbagai, artinya harta yang diperoleh bersama harus dibagi sama banyak.

g.    Burung puang si jlupang, artinya patah tumbuh hilang berganti; tiap yang hilang harus ada gantinya.

h.    Kalah adat karena janji.

i.      Diberi habis saja, artinya suka sama suka.

6. Hubungan Antar Golongan

Induk daripada penduduk daerah Bengkulu adalah bangsa Melayu yang kemudian karna letak geografis yang memisahkan sehingga timbulah bangsa-bangsa atau suku, marga dan keluarga, yang hidup dengan adat istiadat masing-masing. Diantara  suku bangsa yang terkenal yaitu suku Rejang, Suku Serawai, Suku Lembak Suku Enggano, dan Suku Melayu Bengkulu. suku Rejang sendiri pastilah pernah mengalami percekcokan, yang disebabkan maslah perbatasan, hasrat untuk mendapatkan kekuasaan dan perbedaan kepentingan, namun sebaliknya hubungan antar golongan banyak banyak pula terjalin disebabkan oleh persamaan kepentingan, cita-cita dan lain sebagainya. Seperti Suku Rejang di pedalaman dan suku Melayu di Pesisir perna terjadi perhubungan kerja sama di bidang keamanan dimana suku Rejang menjaga Musuh yang datang melalui darat dan suku melayu menjaga musuh yang datang melalui laut Hubungan antar golongan di ikatkan pula karena persamaan bentuk tubuh (ras, tipe, warna kulit) dan persamaan umum yang terdapat dalam bahasa.

            Sejak tahun 1907 sudah ada suku Sunda yang dipindahkan ke Daerah Kepahiang (Rejang) dan sejak 1911 ke Curup. Pada tahun 1912 didatangkan orang jawa, dengan maksud memperkenalkan cara menggarap sawah dan cara memelihara ikan di perairan tawarmigrasi ini berjalan dengan baik terbukti hingga sekarang kabupaten rejang Lebong sangat berkembang dalam hal pertanian. Hal ini tidak terlepas dari berbaurnya suku pendatang dengan suku rejang sehingga terjadi proses saling belajar satu sama lain.

7.  Kesenian

Kebudayaan di daerah bengkulu, masih termasuk dalam rumpun Melayu Polenesia. Salah satu aspek penjelmaan kebudayaan ini adalah tata adat sekapur sirih. Tata adat tersebut hingga kini masih ada terpelihara di kalngan masyarakat bengkulu terutama suku Rejang. Banyak sekali kesenian yang ada di miliki Suku Rejang ini diantarnya tari tarian.
 

Tarian sekapur sirih yang hanya ditarikan untuk tamu-tamu kehormatan. Karena dulunya tarian ini hanya tarian  persembahan bagi tamu-tamu kerajaan yang hadir di balai bundar. Selain itu ada tarian kumbang marak bungo. Tarian ini menggambarkan gadis yang banyak penggemarnya. Penarinya semua memakai pakaian adat. Selain itu ada pula tari kejei yang dibawakan oleh muda mudi suku rejang.

8.     Bahasa Rejang

   Adalah bahasa yang dituturkan oleh suku rejang bahasa ini digunakan oleh semua oarng rejang di kabupaten Rejang lebong, Kabupaten Kepahyang, dan Kabupaten Bengkulu Tengah. Bahasa Rejang sendiri terdiri atas 3 dialek, yakni Rejang dialek Curup, dialek Kepahiang, dialek Lebong. Ada beberapa daerah yang termasuk dalam wilayah kabupaten kepahiang  menggunakan Rejang dialek Curup karena letak geografis yang dekat dengan kabupaten Rejang Lebong. Beberapa daerah yeng dekat secara Geografis dengan wilayah Kabupaten Lebongjuga ada yang menggunakan Rejang dialek Curup. Begitu juga sebaliknya.

Perbedaan dialek juga terdapat dalam Intonasi dalam berbicara. Bahasa Rejang dialek Kepahiang terkesan keras dan kasar, dialek rejang curup terkesan halus dan lembut, dan bahasa rejang dialek lebong terkesan lebih halus dan lembut dari rejang dialek curup. Dari warna dialek menggambarkan tempramen dari ketiga macam orang rejang tersebut.

9.    Akasara Kaganga

Dalam perkembangannya selain bahasa Rejang, suku Rejang juga menggunakan Aksara kaganga. Akasara kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatra Selatan. Aksara yang termasuk kelompok ini adalah Akasara Rejang, Lampung, Rencong dan lain-lain. Nama aksara Kaganga ini merujuk pada Ketiga aksara Pertama. Yaitu ka, ga, dan nga. Istilah kaganga diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of hull (Inggris) dalam buku Folk Literature of South Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Canberra, The Australian National University 1964. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat disebelah selatan adalah Surat ulu.

Aksara batak atau surat batak juga berkerabat dengan kelompok surat Ulu akan tetapi urutannya berebda. Diperkirakan zaman dahulu diseluruh pulau sumatra aceh diujung sampai lampung di selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok aksara kaganga (surat ulu) ini. Tetapi aceh dan minangkabau yang dipergunakan sejak lama adalah huruf kawi.

Perbedaan antara aksara kaganga dengan jawa ialah bahwa kasara surat ulu tidak memiliki pasangan sehingga jauh lebih sederhana daripada aksara jawa. Aksara ulu diperkirakan berkembang dari aksara palawa dan aksara kawi yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan.



Video Mengenai Suku Karo (Sumatera Utara), Suku Kei (Maluku), dan Suku Rejang (Bengkulu).

                 Video ini berisikan tentang adat tradisional dari suku karo di Sumatera Utara.


 
Video ini menggambarakan bagaimana proses adat pernikahan orang suku karo


Video ini menggambarakan bagaimana proses adat pernikahan orang suku karo.


Video ini menggambarkan Tari Tradisional orang Karo.

Video ini menceritakantentang panorama kepulauan maluku, tepatnya tempat suku kei.

video ini menceritakan Adat perkawinan dalam suku Kei.

video ini menceritakan proses angkat sirih pinang di dalam suku kei.


video ini merupakan kearifan lokal dari suku rejang.

video ini merupakan Adat dalam suku Rejang Bengkulu - upacara perkawinan.


video ini memggambarkan bagaimana tarian didalam suku rejang.

Sumber: Semua video yang telah dilampirkan merupakan hasil dari pengunduhan (download) di You tube.

Laporan Observasi Local Wisdom Desa Bandrong Kabupaten Pandeglang

Agama Tradisional Orang Nias



Agama Tradisional Orang Nias
A.      Asal-Usul suku Nias
Suku bangsa ini mendiami pulau Nias yang secara geografis terletak di sebelah barat Pulau Sumatera. Bersama dengan beberapa pulau kecil di sekitarnya daerah in sekarang termasuk ke dalam  wilayah kabupaten Nias, provinsi Sumatera Utara. Penduduk asli menamakan diri mereka Ono Niha,yang artinya “anak manusia”, dan menyebut pulau mereka Tano Niha, artinya “tanah manusia”[1].
Bahasa Nias termasuk dalam rumpun bahasa Austranesia, bahasa tersebar sampai ke kepulauan batu di sebelah selatan Pulau Nias. Diantaranya terdapat empat dialek Nias uatara, Nias tengah (Gomo), Nias selatan (Teluk dalam) dan dialek batu, Orang Nias hidup berkelompok dalam kampung-kampung yang biasanya mereka dirikan diatas bukit dan dipagari dengan batu atau aur berduri. Kampong tersebut mereka sebut banua, dipimpin oleh seorang siulu (bangsawan) yang mereka sebut Tuhenori atau salawa (raja) [2]
Orang Nias mengenal beberapa pelapisan sosial yang cukup tajam. Misalnya dikenal kelas-kelas sosial seperti, Siulu (bangsawan), ere (pendeta), Ono mbanua (anak negeri/orang biasa), dan golongan sawuyu (budak). Golongan siulu adalah golongan yang memerintah dalam lapisan sosial suku Nias[3].
            Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.[4]
Namun menurut Penelitian Arkeologi yang telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 Penelitian ini menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias padamasapaleolitik, bahkanadaindikasisejak30.000 tahunlampau.kata Prof. Harry Truman SimanjuntakdariPuslitbangArkeologiNasionaldan LIPI Jakarta. PadamasaituhanyabudayaHoabinh, Vietnam yang samadenganbudaya yang ada di PulauNias, sehingga  diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kin imenjad inegara yang disebutVietnam[5].
Penelitian genetika terbaru menemukan, masyarakat Nias, Sumatera Utara, berasal dari rumpun bangsa Austronesia. Nenekmoyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melaluijalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu Penelitian ini juga menemukan, dalam genetika orang Nias saat ini tidak adalagi jejak dar imasyarakat Niaskuno yang sisa peninggalannya ditemukan di Goa Togi Ndrawa, Nias Tengah. Penelitian arkeologi terhadap alat-alat batu yang ditemukan menunjukkan, manusia yang menempati goater sebut berasal dari masa 12.000 tahunlalu.Menanggapi temuan itu, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Sony Wibisonom engatakan, teori tentang asa lusulma syarakat Nusantara dari Taiwan sebenarnya sudah lama disampaikan, misalnya oleh Peter Bellwood (2000).Teori Bellwood didasarkan pada kesamaan bentuk gerabah.
B.            Ajaran-Ajaran Suku Nias
1.      Keyakinan Terhadap Dewa
Suku yang pernah mencapai tingka tperkembangan megalitik yang mengagumkan ini mempunyai agama asli yang disebut Maloheadu( penyembahroh) yang didalamnya dikena lbanyakdewa, diantaranya yang paling tinggi adalah lowalangi.seperti padahasil karya buda ya mereka, merek a menyembah roh-roh dengan mendirikan patung-patung dari batu dan kayu, tugu-tugu dan arcaarwahsertaomohada yaitu rumah adat yang didirikan diatas batu-batu besar pipih dan dengan tiang-tiang kayu besar, dan penuh jugadengan ukir-ukiran.[6]
Lowalangi dipandang sebaga idewa yang terpenting karena ada banyak do’a, mantra, sumpah dan kutukan yang disandarkan kepada Lowalangi dan kekuasaannya.Lowalang imenentukan hidup dan mati manusia, memberikan berkat dan kutukan, kekayaan serta kemiskinnan.Dialah yang dipecaya selalu ada dimana-mana dan mengetahui segala sesuatu, serta menghukum yang jahat. Sedangkan Lature dano d ipercaya menyebabkan adany apenyakit, kematian, gempa bumi, angin rebut, dan lain sebagainya. Akan tetapi semua itu tidak berarti banyak dalam kehidupan religious sukunias.
2.      Keyakinan tentang jiwa
Dalam suku Nias terdapat beberapa ungkapan-ungkapan yang dipakai untuk mengungkapkan pengeretian jiwa yaitu, noso dan bekhu. Noso dipandang datang dari dewa Lowalangi atau dari salah satu bentuk penampakan dewa itu.[7] Sesudah yang memiliki noso itu mati maka noso akan kembali kepada Lowalangi. Pada hakikatnya noso dianggap atau sering di uraikan sebagai nafas, hidup, dan atau asas yang dialaminya. Sedangkan bekhu tampil jika orang yang sudah mati atau mungkin bisa kita sebut arwah/roh. Bekhu pergi ke  alam orang yang sudah mati. Dalam praktiknya, bekhu sama dengan bentuk eksistensi yang baru dari orang yang mati.
3.      Keyakinan Tentang Kekuatan Ghaib
Suku Nias mengenal adanya eheha. Eheha adalah kekuatan yang berjiwa dan menjiwai, yang dapat diwariskan dari ayah kepada keturunannya atau kepada anak laki-lakinya[8]. Sebenarnya eheha ini hanya berarti bagi para pemimpin laki-laki ataupun pada orang-orang yang penting dan tidak beerlaku ataupun tidak penah terungkap adanya eheha.
4.      Mite Penjadian
Mite merupakan suatu cerita yang mempunyai latarbelakang sejarah yang dipercayai masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi dan dianggap suci serta mengandung hal-hal gaib. Bagian pertama mite ini, memiliki sumber, atau meyebutkan bahwa pada awal mula yang adalah kekacauan (khaos) dari kekacauan ini timbulah tokoh dewa yang pertama, selanjutnya mite-mite itu berbeda satu sama lain.
C.    Upacara-Upacara Suku Nias
1.      Upacara Pesta Jasa atau Pesta Kedukaan (owasa)
Tujuan pesta religius ini ialah untuk memperoleh kehormatan, nama, kedukaan, dan gelar. Jika perayaan ini diselenggarakan oleh bangsawan, pada kesempatannya mereka mengadakan korban manusia dan juga mendirikan suatu momen megalitikum.
2.      Upacara Boro Nadu
Upacara boro nadu ini adalah puncak hidup kultus suku Nias, sebab secara langsung pesta ini dihubungkan dengan penciptaan dan terjadinya suku Nias. Biasanya upacara ini diselenggarakan ditempat-tempat yang dipandang sebagai tempat nenek moyang dahulu turun dari alam atas dan sekaligus dianggap sebagai kediaman pertama nenek moyang masing-masing kelompok. Kata boro sendiri berarti suku, dasar, atau sebab. Jadi, kata  boro nadu berarti permulaan perbbuatan suci, atau asal dan sumber tertua penyucian..
Jalannya upacara boro nadu adalah sebagai berikut berbondong bondong orang mengunjungi upacara dengan pakaian yang indah akan tetapi, pada saat ini tidak di bagikan makanan. Segala permusuhan pada saatini harus dihentikan. Sebelum upacra di mulai, orang membuat patung manusia dan harimau yang pada hari upacara itu di arak ke tempat upacara dengan nyanyian dan tarian.
D.    Interaksi Kepercayaan Orang Nias Dengan Agama-Agama Lain
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi.[9] Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.




[1] Dr. Zulyani Hidaya, Ensiklopedia suku bangsa di Indonesia, h. 287
[2]Ibid, h. 288
[3]Ibid, h. 291
[4] Harun Hadiwijono. Religi Suku Murb Di Indonesia, PT Bpk Gunung Mulia: jakarta, 2007, h. 87

[6]Ibid, h. 88
[7]Ibid, h. 89
[8]Imran manan, 1989, Antropologi Pendidikan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, h.3
[9] Ibid, h. 91